jawapromo.com
Untitled Document
Untitled Document
Untitled Document

Penyakit Dan Penyembuhannya

Antara Hidup - Mati 2002

Melawan Kanker Otak

 

“Sungguh, bapak ketika itu kata dokter sudah mendekati pintu kematian,” kenang Untung Waluyo Jati (57) mengingat derita kanker otak yang dialaminya. Ungkap untung beserta keluarganya di Desa Cepor Rt.04/Rw.02, Sendang Tirto, Berbah, Yogyakarta.

Derita itu diawali ketika tahun 2002, Menjalani test USG (ultrasonography) mengatakan kanker otak. Kemoterapi hingga beberapa lima kali paket untuk membunuh sel kanker yang ada pada tubuhnya. Hari ke-3 menjalani kemoterapi tiba-tiba badannya terasa lemas hingga tak sadarkan diri dan sering pingsan berturutan.

Pasalnya dokter akan tangan dan Bapak di sarankan ke alternatif karena tak mungkin di tangani secara  medis. Kemudian Bapak di pertemukan Paguyuban Tri Tunggal (Romo Sapto) atas saran saudara – saudara Bapak. Dengan cara penyembuhannya yang penuh gojekan. Namun nyatanya saya bisa sembuh dan ternyata gayanya yang seperti itu memang salah satu metodenya agar pasien tidak tambah stres dengan penyakitnya,” ujarnya ketika ditemui di rumahnya Sabtu (9/2/2002) lalu. (*)

 

Kanker Usus Sri Partono Bablas Sejak Tahun 2004

 

Ya, saya Sri Partono (41) atau kerap dipanggil Pak Tono. Saya tinggal di Munggung Rt 03/Rw III, Gilingan, Surakarta. Sekedar berbagi pengalaman saja, melalui tulisan ini saya ingin menceritakan kisah perjalanan saya dalam mengupayakan kesembuhan hingga akhirnya sembuh di Paguyuban Tri Tunggal.

Dulu saya adalah penderita kanker usus. Gejala dari penyakit ini terjadi pertengahan tahun 2004, dimana dubur saya terasa sakit sekali. Saya kira cuma wasir biasa, maka saya diamkan saja. Namun lama-kelamaan sakitnya menjadi luar biasa, rasanya seperti ditusuk-tusuk pisau. Rasa sakit ini saya alami selama 6 bulan.

Pekerjaan saya yang waktu itu hanya seorang salesman, jelas saja menjadi terganggu. Bagaimana tidak? Wong saban hari saja kalau dihitung-hitung saya bisa keluar masuk toilet hingga 40 sampai 50 kali. Tidur pun terasa tidak nyenyak karena dubur dan kemaluan terasa nyeri.

Pengobatan medis hanya mampu mengurangi rasa sakit sesaat, namun tidak pernah mampu menghilangkan keluhannya secara tuntas. Sedang untuk menanganinya, dokter mengatakan bahwa harus dibedah alias dioperasi. Itupun harus dilaksanakan sesegera mungkin karena penyakit kanker usus sangatlah ganas dan mengakibatkan kematian dengan cepat. Namun karena kendala finansial, jelas saya merasa keberatan untuk operasi. Bagi saya, hidup mati yang menentukan Yang Di Atas, pasrah saja kepada-Nya. 

Istri saya yang tampak khawatir lantas menyarankan mendatangi Satguru Romo Sapto untuk meminta bantuan menyembuhkan penyakit saya ini, maka saya pun mencoba datang ke Tambak Bayan. “Yah…sopo ngerti iso mari tenan,” begitu pikir saya. Di Paguyuban Tri Tunggal, saya sama sekali tidak diterapi oleh beliau. Jangankan diterapi, disentuh saja tidak karena beliau tahu bahwa saya tidak begitu percaya dan kurang yakin. Akhirnya penyembuhan pun dilakukan oleh para murid beliau. Eh…lha kok ternyata ya sembuh. Setelah mendapat kesembuhan, saya baru yakin kepada Yang Di Atas dan percaya bahwa Satguru memang benar-benar ampuh.

Hanya diterapi muridnya saja saya bisa sembuh, apalagi kalau ditangani langsung oleh Satguru, mungkin hanya cukup dikedepi saja penyakit bisa langsung bablas. Demi Tuhan kesaksian saya ini, benar adanya. (*)

 

Melalui Tangan Satguru Patah Tulang Sembuh

 

Nugroho Arief (18) kesaksian tahun 2002, warga Desa Gunung Putri Rt 04 Rw 09 Kec Gunung Putri Bogor menderita patah tulang di bawah leher karena kecelakaan. Jalan medis tidak kurang di lakukan dan alternatif dia lakukan namun membuat tangan panjang sebelah dan lemas tak punya daya,” ujar pria kelahiran Yogyakarta ini.

Ia pun sempat putus asa. Atas saran dari Eyangnya, Arief pun dibawa ke Paguyuban Tri Tunggal yang berada di Tambak Bayan IV/20 C Yogyakarta dan sesampainya disana bahkan langsung ditangani sendiri oleh Satguru Sapto Raharjo. Dia bersyukur dengan perantara Satguru Sapto Raharjo, patah tulang yang  saya derita  sembuh,  dia bisa melakukan aktifitas lagi. (*)

 

3  Benjolan di testis hilang dengan transfer

 

Satguru Paguyuban Tri Tunggal (Romo Sapto) dalam mendidik cantriknya sudah tidak diragukan lagi. Apalagi dalam hal menghilangkan benjolan. Entah itu di tangan, payudara ataupun di testis sekalipun. Seperti yang dialami oleh Herry Hudiono (54) warga Jalan Panglima Sudirman No 65 Malang 65163, yang memiliki 3 benjolan di testis.

Tentu hal ini membuatnya bingung dan sering was-was. Menurutnya benjolan ini tumbuh sejak tahun 1995, toh begitu ia enggan untuk berobat ke dokter karena malu. Cukup aneh memang, benjolan yang sudah hampir 9 tahun, lenyap begitu saja. Memang kehebatan Metode Paguyuban Tri Tunggal bukan isapan jempol semata. (*)

 

Infeksi Paru, Nafas Bunyi Ngik-ngik

 

Apri Candra Hartanti (20) tinggal di Asrama CPM C-28, Jl Kusuma Negara, Jogjakarta, ketika itu.  Apri di katakan dokter menderita infeksi saluran pernafasan akut yang berlanjut menyerang paru-paru. Istilah ilmiahnya disebut ISPA. Apri jika bernafas berbunyi ngik-ngik yang sangat mengganggu. Setelah melakukan serangkaian terapi dokter dan obat, ia dinyatakan sembuh. Tapi itu tak lama karena penyakit itu kambuh tak terbendung.

Disaat risau itu, tak sengaja ia menonton acara penyembuhan Paguyuban Tri Tunggal pimpinan Satguru Romo Sapto di salah satu stasiun televisi swasta lokal di yogyakarta.  Lalu dia datang ke Tambak Bayan IV /20C, Depok Sleman Yogyakarta di sekretariat Paguyuban Tri Tunggal (Romo Sapto). Dia heran bunyi ngik-ngik saat bernafas itu lenyap. Bahagianya lagi, penyakit itu tak pernah kambuh lagi ketika itu. Mungkin jodohnya sembuh dengan metode penyembuhan Tri Tunggal,”. (*) 

 

2 Kali Tatap Muka Sakit Menahun Bablas

 

Terdata kesaksian di tahun 2002. Nandar (73) yang tinggal di Jl Agus Salim No 1, RW1 RT3 Pacitan. Jatim ketika itu. Sakit menahunnya yang berupa maag dan pendengaran yang tidak sempurna sembuh di PTT pimpinan Satguru Sapto Raharjo,  

Berawal membaca artikel di Tabloid POSMO. Tanpa obat atau jamu serta pijak hingga tanpa memegang anggota tubuhnya, sakit menahun itu bisa sembuh dengan metode penyembuhan PTT ketika itu. (*)

 

Derita bocah 4 tahun yang memiliki  benjolan di saluran usus buntu

 

Ketika itu tahun 2003, Cahyani Ramadhan usia 4 tahun menderita benjolan di usus buntu yang membuatnya selalu muntah. Anak usia 4 tahun itu tinggal di Bedingin Sumberadi Sleman Yogyakarta. Orang tuanya di bulan Agustus lalu membawanya ke Paguyuban Tri Tunggal (Romo Sapto) yang berada di Tambak Bayan, Yogyakarta dan kemudian benjolannya di usus buntu lenyap. (*)

 

Benjolan di kanan dan kiri leher hilang dalam beberapa menit

 

Menurut pengakuan V. Sukarti (46) ketika itu yang tinggal di Jalan Grinjing No 9B, Papringan Yogyakarta. Dia menderita benjolan sebesar telur puyuh yang harus di operasi. Terkejutnya dia benjolan sebesar telur puyuh itu hilang  dan benjolan lainnya mengecil cepat hanya dalam beberapa menit. Menurutnya inilah perjodohannya dari pengalamannya mencari kesembuhan di Paguyuban Tri Tunggal (Romo Sapto).(*)

  

Benjolan Kista Endang Setyowati itu Lenyap

 

Kesaksian bulan Juli 2004 yang lalu Ny. Endang Setyowati (41), di Jalan Laksda Adi Sucipto No.11 Ambarukmo merasakan sakit  yang  tidak ketulungan. Pasalnya ada benjolan di dalam perut dan setelah dicek medis ternyata kista. Betapa tersiksanya Ny. Endang karena sakitnya membuatnya jadi susah tidur bahkan susah buang air besar dan badan pun panas. Datanglah ke Paguyuban Tri Tunggal (Romo Sapto), pemindahan penyakit ke kambing dilaluinya. Kondisinya membaik hingga sembuh total. (*)     

 

2 kali Terapi, Asam Urat Sembuh

 

Ketika itu, PNS bernama Wahyudi (44) ini tidak bisa bekerja. Dia warga Potorono Rt 01 Rw 01 No 80, Banguntapan, Bantul. Sangat rutin menjalani medis. Namun, derita asam uratnya tidak sembuh-sembuh juga. “Sudah kedua kaki saya sakit, masih harus menderita karena banyak pantangan makanan yang tidak boleh dimakan,” keluhnya.

Beruntung, ada saudara yang memberitahukan tentang  Paguyuban Tri Tunggal tempat Satguru Romo sapto bernaung. Dengan keyakinan sembuh berangkatlah ia ke Paguyuban Tri Tunggal.

“Ajaib!,” gumamnya. Hanya dengan dua kali terapi, asam urat yang selama ini ngendon di tubuhnya berangsur sirna. Katanya saat itu asam uratnya sudah bebas dari derita sakitnya. “Sekarang makan apa saja bebas, meski makanan pantangan sekalipun,” ujarnya dengan senang. (*)

 

Benjolan payudara hilang

 

Pengakuan Ny Ngatiyem (50) ngatiyem ketika itu, warga Jalan Antir I Rt 02 Rw 12 Gedangrejo Karangmojo Wonosari Gunungkidul. Benjolan payudara yang ada disebelah kanannya kini lenyap setelah di sembuhkan di Paguyuban Tri Tunggal tempat Romo Sapto tinggal. Guru SD Negeri di salah satu sekolah di Karangmojo itu rajin berobat secara medis dan disarankan untuk bedah operasi. Dia takut operasi dan tak punya biaya.

Di awali menyaksikan acara Harmoni di TVRI Yogya. Berawal dari sanalah timbul semangat dan keyakinan untuk sembuh hingga memutuskan untuk datang ke Paguyuban Tri Tunggal. “Ajaib! Benjolannya bisa hilang setelah transfer ke binatang setelah di lakukan pemindahan benjolannya.(*)

 

Benjolan Segenggam Tangan Lenyap. 

 

Pengalaman Ny Suratinem (52), warga Gondang, Ngawis Karangmojo, Gunungkidul ketika itu. Benjolan di antara bahu dan lehernya hilang hanya dengan sekali pemindahan penyakit ke binatang. Hal itu di lakukan di karenakan banyaknya  masyarakat yang datang di PTT tempat Romo Sapto. Tidak hanya ratusan bahkan ribuan. Kondisi fisik yang lelah karena melayani masyarakat ketika itu di putuskannya pemindahan penyakit (benjolan) ke binatang.

Benjolan sebesar genggaman tangan orang dewasa itu lebih dari 5 tahun di hitung dari kesaksiannya itu. Semula hanya kecil tapi lama-kelamaan membesar.  Sudah banyak biaya di keluarkan secara medis maupun alternatif dan belum mendapatkan jodoh kesembuhan. Hal ini membuatnya putus asa dan enggan untuk mengobati benjolannya kembali.

Di saat pasrah itulah ada saudara yang juga pernah sembuh dari derita benjolan payudara, memberikan informasi mengenai keberadaan Satguru Romo Sapto di Paguyuban Tri Tunggal dan menyarankan agar menjalani  terapi di sana. Tersentuhlah kesaksian saudaranya itu, tak ingin penderitaannya berlarut-larut lebih lama lagi, akhirnya ia pun memutuskan untuk datang ke: Tambak Bayan IV/20C, Catur Tunggal, Depok, Sleman, Yogyakarta. Kesembuhanpun di dapatkannya secara permanen. (*)

 

Ny Brotowinarno bebas dari benjolan di usus

 

Pengalaman ini dialami pula oleh Ny Brotowinarno (56) warga Kaliwinong Kidul, Srikayangan, Sentolo, Kulonprogo ini. yang memiliki benjolan di ususnya.  Berbagai usaha mencari kesembuhan di cobanya hasilnya nihil, bahkan sampai rawat inap. Ternyata hasil medis melalui rongent ternyata benjolan di usus dan disarankan operasi. ujar

“Alhamdullillah. Setelah transfer, sakit yang biasa saya rasakan mulai banyak berkurang, mungkin memang sudah berjodoh dengan Tri Tunggal (Romo Sapto)” kata ibu itu.   (*)

 

Gangguan Haid Teratasi

 

Inilah yang dialami oleh Ruwilah (18). Gadis warga Warak Rt. 04/Rw10, Sumberadi, Mlati, Sleman, Yogyakarta ini selama 2 bulan lamanya mengalami haid terus menerus, tidak berhenti henti. Perutnya pun terasa perih disertai mual dan pusing yang tidak sembuh-sembuh. Kondisi ini mengakibatkannya harus masuk rumah sakit dan harus menjalani rawat inap selama 3 hari. Darahnya drop bahkan kadar HB dalam tubuhnya di bawah 6, sehingga memaksa dokter yang merawatnya harus memberikan transfusi darah. Sementara kondisinya membaik.

Seminggu setelah pulang rawat inap kembali kambuh. Berbagai macam obat telah dicoba untuk mengatasi sakitnya. Keputusasaan menimpanya. teman ayahnya yang sembuh dari tumor dan keluhan haidnya bisa sembuh. 

Ruwila pun bergegas menuruti saran dari teman ayahnya pemindahan penyakit ke binatang pun menjadi awal bagi kesembuhannya di Paguyuban Tri Tunggal (Romo Sapto). Dia senang, kini sembuh dari derita yang selama ini saya alami, waktu haid pun sekarang perut sudah tidak perih lagi. (*)

 

Derita ambeiyen sirna

Dialami oleh Syaiful Ms (61) warga Gunung Pring, Muntilan, Magelang ini menderita penyakit ambeien sembuh di Paguyuban Tri Tunggal (Romo Sapto). Darah selalu mengalir di duburnya dan setiap buang hajat terasa panas. “Rasanya nyeri sekali katanya. Sebagai wiraswata di sangat terganggu karena menjadi tidak fokus bekerja. Setelah menjalani terapi, derita penyakit ambeiennya sembuh total ketika itu.  (*)

 

Isbandi Urung Operasi

 

Demikian halnya yang dialami oleh Isbandi Bc.Hk. (54), warga Gendengan Rt 06 Rw 18 Margodadi Sayegan Sleman di usianya yang lebih dari setengah abad itu, dirinya mengalami penyakit diabetes dan komplikasi.  

Pada Selasa (5/10) atas rujukan dokter, pria kelahiran Sleman ini pun opname di rumah sakit dengan komplikasi penyakit yaitu diabetes, darah tinggi, batu empedu dan batu ginjal. Oleh dokter yang merawat disarankan untuk menjalani operasi.  “Alhamdullillah, keesokan paginya kondisinya berangsur-angsur pulih.  (*)

 

Hanya Media Foto Sembuh dari Diabetes, Hepatitis dan Paru-Paru Basah                           

Supriyono, warga Kweni RT 02 No 40 Panggung Harjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta. Derita komplikasi yang dialaminya yaitu diabetes, hepatitis dan paru-paru basah yang diderita menyebabkan ia terpaksa harus di rumah saja. Jalan medis di lakukan dengan rawat inap. 

Kebetulan anaknya, Dwi Sumaryati -anaknya- membaca surat kabar tentang romo sapto, Paguyuban Tri Tunggal dan anaknya membawa fotonya.  Luar biasa katanya!! Kondisinya membaik dan pihak yang merawat inap memperbolehkan pulang. Kondisi badan yang dulunya kurus kering, kini kembali segar bugar, terlihat gemuk dan bisa mulai kembali masuk kerja. Anaknya pun sangat senang Bapaknya telah sehat.

 

Benjolan Sebesar Bola Kasti dan Pendarahan di Perut Lenyap Setelah Transfer

 

Pengalaman Ny Subini (40)  warga Ngasinan RT 03 RW 04, Gang Kunir No 3 Solo Baru ketika itu.  Dalam setahun sudah 3 kali ia masuk rumah sakit, 32 kali transfusi darah di lakukan. Medis menyarankan untuk operasi tetapi pesimis atas hasil yang nantinya didapat.

Keraguan itu membuat ketakutan dan pihak medis memberikannya obat untuk mengatasi rasa sakit. Obat itu memiliki tingkat alergi hingga terjadi kejang – kejang dan tubuh lembam biru – biru kulitnya. Keluarganya panik ketika itu lalu di pindahkankannya ke salah satu memindahkannya ke salah satu rumah sakit yang lain di Yogyakarta. Uang habis – habisan di keluarkannya sampai menjual kendaraan dan tanah - tanahnya.

Kakak Subini bernama Kisnanto berinisiatif membawanya ke tempat Romo Sapto, Paguyuban Tri Tunggal.  “Siapa tau, berjodoh terapi di sana dan bisa sembuh,” begitu kata kakaknya. Setelah pemindahan penyakit ke binatang di lakukan, seketika kesehatannya menjadi membaik dan tidak merasakan sakit. Benjolanpun lenyap dan pendarahan berhenti. Padahal Subini 2 bulan takut mandi karena sensitif dengan air dan saat itu menjadi berani mandi. Badannya menjadi sehat tidak sempoyongan lagi.(*)

 

Radang Usus Dien Hariyati

 

Dien Hariyati, tinggal di Jalan Taman Kebun Sirih No 5 Jakarta ini. Wanita karier ini bekerja di sebuah bank di Jakarta ini telah mendapatkan kesembuhan atas derita radang usus yang dideritanya. Ayahnya menerangkan radang ususnya terasa setelah dalam bekerja sering cepat capai dan demam. Tak cuma itu, buang air besar pun berdarah. Hasilnya setelah pemindahan penyakit ke binatang di lakukan sudah tidak berak darah dan badannya merasakan sehat. Dien Hariyati, sembuh di Paguyuban Tri Tunggal Semarang,(Romo Sapto) Jl Muteran III No 9, Pudak Payung, Banyumanik, Semarang  dan sudah tidak berak darah lagi.  

 

Wasir teratasi atasi dengan terapi

 

Supadmi (40), warga Jalan Cemara II/124 Rt I Rw III Padangsari, Banyumanik Semarang.  Tahun 2004 di menahan rasa sakit karena wasir ketika itu.  Hal yang membuatnya takjub, baru sekali terapi saja rasa sakit hilang. Bahkan setelah pulang pun, di rumah tidak kambuh-kambuh lagi.

 

 Stroke banyak kemajuan, setelah diterapi  

 

Sri Roch Purwani (56) warga Jalan Kyai Mojo 4 Semarang yang telah sembuh dari penyakit stroke disfungsi organ kanan. Menurut ibu kelahiran Solo ini, dulu tangan dan kakinya tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Tangan tidak bisa diangkat dan kaku, sedangkan kaki tidak bisa berjalan dengan tegak. Tentu hal ini membawa penderitaan tersendiri bagi dirinya. Setelah mengetahui keberadaan Paguyuban Tri Tunggal (Romo Sapto) maka   menjalani serangkaian terapi, banyak kemajuan yang dialaminya. Ketika itu jalan sudah normal atau tegak, tangan kanan sudah bisa aktif seperti semula dan semua sudah tidak kaku lagi. (*)

 

Transfer bebaskan Ngatiami dari sesak paru-paru      

Ny Ngatiami (64), warga Jalan Kesatrian Asrama Kodam Rt 04 Rw 05 Semarang. Di usia yang sudah mulai senja, sesak paru-paru menyerangnya. Dua tahun lamanya, penyakit itu ada di dalam tubuhnya. Selama berbulan-bulan Ngatiami mengupayakan berbagai cara demi kesembuhannya tetapi hasil yang didapatkan tak seperti yang diharapkan.  Wanita kelahiran Purworejo ini datang ke Paguyuban Tri Tunggal Semarang (Romo Sapto) di Jalan Muteran III RT 02 RW 03 No 9 Kel. Pudak Payung, Kec. Banyumanik, Semarang dan sembuhlah dia dari sakit yang di deritanya setelah melakukan pemindahan penyakit ke binatang.(*)                                     

 

12 tahun Derita Nyeri Punggung Sembuh   

Parin (35) warga Jalan Kalpataru, Gang Manggar No 19A, Tawanganom, Magetan, Jawa Timur ini, kini bisa tersenyum lega. Pasalnya, derita nyeri punggung yang dialaminya selama lebih 12 tahun silam ketika itu telah sembuh. Nyeri punggung yang dideritanya ketika itu tentu saja membuat aktivitasnya jadi terganggu. Betapa tersiksanya ketika derita itu selalu menyertainya dalam setiap aktivitas sehari-hari. Untuk bekerja pun ia merasa sangat tidak nyaman rasanya. “Nyeri sekali,” ujarnya. Bagaimana tidak? Setiap akan melakukan sesuatu, pasti punggungnya langsung terasa nyeri dan menjalar ke seluruh badannya.

Pengobatan secara medis sudah diupayakannya, namun belum juga menunjukkan hasil akan adanya kesembuhan. Bahkan ketika diambil foto rontgen pun tidak diketemukan adanya penyakit. Melihat kenyataan tersebut, maka  beralihlah  Parin ke pengobatan alternatif pijat urat, namun ternyata hasilnya pun masih nihil. Nyeri di punggungnya masih saja terus mengganggu. Kemudian dia datang ke  Paguyuban Tri Tunggal. Lantas, dia menjalani terapi di Tri Tunggal (Romo Sapto), sakit yang selama ini menyiksa hingga bertahun-tahun itu pun berangsur sembuh. Ketika itu dia bersaksi nyeri punggung yang sangat menyiksanya itu sudah tidak saya rasakan lagi.. (*)

 

Pendengaran berkurang, selalu kram dan susuah buang air besar  

 

Pengalaman Ny. Urai Agusniah (68) di Paguyuban Tri Tunggal (Romo Sapto) juga dialami oleh Ibu 9 putra yang jauh-jauh datang dari Jl. Sungai Raya Dalam No. 14, Pontianak, Kalimantan Barat ini mengalami kemukjizatan ketika pada hari Rabu (17/11/ 2004) menjalani penyembuhan di Paguyuban Tri Tunggal. Melalui pemindahan penyakit ke tubuh binatang, beragam derita sakit yang dialami, secara langsung kini tidak dirasakannya lagi. “Kaki sering kram, lutut kalau untuk berdiri bunyi kretek-kretek, pendengaran berkurang, penglihatan kabur, dan susah buang air besar,” keluhannya.

Setelah pemindahan penyakit di lakukan ketika itu derita yang dialami Ny. Urai hilang sudah. Telinganya bisa kembali mendengarkan, matanya kembali bisa melihat indahnya dunia. Dia dapat sembuh hanya dalam waktu cukup singkat.   (*)

 

Sekali Terapi Benjolan Hilang

 

 Putra ke-2 keluarga Muhammad Ruslan menderita benjolan di belakang kepalanya.  Sang putra, Muhammad Rosikin (3) menderita kelainan kelenjar getah bening yang tampak berupa benjolan sebesar batu kelereng. Menurut dokter tidak berbahaya, namun sebagai orang tua tetap was – was.

  Melalui selembar foto, dari rumahnya di Kapling Jampi Roso No. 22, Temanggung, Jawa Tengah, Ruslan datang ke Paguyuban Tri Tunggal (Romo Sapto). Sarana selembar foto tersebut, segera dilakukan penyembuhan jarak jauh. Hanya sekali datang dan diterapi, benjolan yang tadinya sebesar kelereng itu kini hilang sama sekali. Orang tua Rosikin begitu senang atas kesembuhan anaknya itu, pasalnya hidupnya dengan rejeki pas-pasan yang mendorongnya semakin kawatir ketika itu.. (*)

 

Sembuh Dari Pembengkakan Saluran Anus  

 

Subarjo Utomo (47) warga Madean Rt 01 Rw 26 Sumbersari Moyudan Sleman Yogyakarta itu. Saluran  anusnya bengkak yang istilah secara medis sering disebut split. ”Jangankan untuk melakukan aktivitas, untuk duduk saja terasa  sakit sekali,” kenangnya tentang penderitaan yang dulu dirasakannya.

Dia mendapatkan info dari TVRI yaitu acara Harmoni yang sedang menyiarkan Paguyuban Tri Tunggal (Romo Sapto) dan penyembuhan massal. Lantas ia pun mengikuti penyembuhan massal yang dilakukan melalui gelombang elektromagnetik lewat siaran televisi. “Heran, tiba-tiba saya kok merasa ada perkembangan, sakit yang tadinya minta ampun, mendadak berkurang,” ujar dia. Lalu esoknya datang ke tempat Romo Sapto.

Hari pertama sampai dengan hari ketiga setelah pemindahan penyakit ke binatang memang belum tampak perubahan. Namun pada hari keempat hingga sekarang, bengkak di saluran anus sembuh sama sekali dan tidak sakit lagi. Saat itu naik sepeda motor seharian pun sudah kuat. (*)


 
 22-06-2013