jawapromo.com
Untitled Document
Untitled Document
Untitled Document

Kang Kawah Adi Ari Ari Itu Vitalitas Jati Dirim

Sri Romo, " Sumber Jati diri & Identitas kita kepribadian yang telah bertemu Kakang Kawah Adi Ari – Ari & Sedulur Papat Kiblat Limo Pancer. saudara sejati tak terpisahkan sampai ajal menanti itulah Indikator menuju pertemuan dengan jati diri dan keprubadian sejati yang utuh. "

 
Sri Romo Sapto membuka pandangan kita bahwa Mindset filsafat kebudayaan Jawa menghayati eksistensi perjanjian tri prasetya tentang jalan rohani pribadi roh suci (Ingsun) yang tuminitis (turun ke dunia) dan moksa (pulang dengan sempurna). Penghayatan beserta pendalaman dan pengamalan sehari – hari adalah eksistensi tidak hanya sebatas keyakinan akan keberadaan kekuatan keseimbangan alam jagat alit dan agung (mikro dan makro kosmis) yang mendampingi, melindungi dan menuntun tiap manusia, yaitu eksistensi kekuatan alam jiwa kakang kawah adi ari – ari dan sedulur papat kiblat lima pancer. Eksistensi alam itu hidup dalam adat dan tradisi dalam kebudayaannya. Meskipun telah tergerus oleh perubahan jaman (perubahan sosial), eksistensi yang tak sebatas keyakinan saja itu tetap membangun jembatan generasi ke generasi selanjutnya dengan gerak tuntutan alam yang sangat akulturasi dengan kebudayaan sebrang (asing) yang hadir. Kebudayaan asing begitu kewalahan untuk melakukan dominasi, hegemoni dan kekuasaannya untuk menyingkirkan eksisten kebudayaan Jawa tersebut, tetap merekalah yang tersingkir secara subtansial meskipun tinggal kerangkanya saja. Apapun alasannya, eksistensi alam dalam kebudayaan Jawa tak pernah melawan dengan kekerasan fisik atau kekerasan nilai, dia mempertahankan dirinya melalui tiap pribadi jawanya untuk membebaskan diri secara spiritual.

Apakah eksistensi atau mindset kebudayaan Jawa bisa di hilangkan dan di bangun secara sistimatik untuk di punahkan ? jawabannya tetap tidak akan pernah bisa. Kebudayaan Jawa akan menawarkan akulturasinya yang lambat laun akan merubah nilai – nilai kebudayaan asing (sebrang) di karenakan kebudayaan Jawa selalu berdampingan dengan kekuatan keseimbangan alam mikro dan makro kosmis di tiap pribadi individunya. Sebagai contoh, meskipun di jaman modern ini pemahaman tentang sedulur kakang kawah adi ari – ari dan sedulur kiblat papat lima pancer telah asing di kesadaran masyarakat modern yang nota bene adalah dominan masyarakat Jawa tetaplan tidak bisa di tinggalkan. Sedulur kakang kawah adi ari – ari dan sedulur papat kiblat lima pancer itu eksistensi otentik jati diri dan kepribadian budaya Jawa. Dimanapun berada selama masih hidup tetap tidak berpisah. Konsep tanah air jati diri dan kepribadian sebagai bangsa Jawa tetap melekat walaupun kerangka pemikirannya telah berubah dan menjadi munafik atau men-tabu-kan hal itu suatu hal yang di anggap nilai yang menjijikan. Konsep tanah air adalah jati diri melekat dalam kepribadian secara bawah sadar di karenakan nilai – nilai kerahiman sebagai cikal bakal bahwa kakang kawah adi ari – ari dan sedulur papat lima pancer adalah jati diri kerahiman yang tidak bisa melupakan asal muasal kelahirannya dari kandungan (gua garba). Semua pribadi akan di pertemukan oleh perjalanan rohani dalam hidupnya dan memperkenalkan diri sesuai kerangka pemikiran yang telah berubah sesuai kebudayaan sebrang yang di anutnya. Itulah yang saya maksud bahwa kebudayaan Jawa tidak bisa di punahkan karena akan bergerak secara bawah sadar di dalam gerak spiritualisme dan mentalismenya.

Hubungan baik atau tidak dengan kakang kawah adi ari – ari dan sedulur papat kiblat lima pancer secara sadar atau bawah sadar tetap pada saatnya nanti akan terhubung yang paling lambat di saat ajal tiba pasti bertemu. Nilai – nilai kerahiman atau jati diri seperti kakang kawah adalah air ketuban yang keluar di saat proses kelahiran yang berjanji menjadi dan menjaga sebagai saudara bayu (angin) berwarna citra putih arah kiblat timur.  Adi ari – ari atau selimut jabang bayi yang berjanji menjaga sampai ajal tiba sebagai saudara air (amarta) berwarna citra kuning arah kiblat utara. Ponang getih (darah) yang berjanji menjaga hidupmu sebagai saudara api (agni) berwarena citra merah arah kiblat selatan. Marmati (jiwa ketakutan dan keberanian akan mati dan hidup di dunia)  yang berjanji menjaga raga jasmanimu tidak cidera sebagai saudara bumi (tanah) berwarna citra hitam arah kiblat barat. Sedangkan pusar sendiri sebagai puser atau pusat (pancer) atau pegangan hidup dari keempat kiblat tersebut untuk berpusat dalam pancer sebagai pedoman perjalanan rohani sebagai jalannya si pribadi sejati (Ingsun) yang manunggal dengan jiwa dan raga (jabang bayi) bertanggung jawab atas kesemuanya hidup di dunia yaitu roh sejati.

Mindset kebudayaan Jawa adalah mindset penyelarasan antara jagad kecil (manusia-mikrokosmos) dengan jagad besar Alam Semesta (makrokosmos) yang tidak ada duanya di dunia. Nilai – nilai keseimbangan di dalam kebudayaan Cina yang memahami Yin dan Yang dengan istilah keseimbangan Chi atau India dengan istilah prana dengan yoga tidak selengkap kebudayaan Jawa yang melekat dengan kerahimannya (gua garba) sebagai proses lahirnya di dunia. Nilai – nilai kerahiman (gua garba) banyak di mengerti dalam kebudayaan sebrang seperti pemahaman soal lingga yoni atau mandala atau pusat energi yang di gambarkan dengan totem atau bentuk kesenian dalam budaya peradabannya masing – masing seperti dewi kemakmuran (kerahiman) sebagai tokoh pembebas belenggu.

 
Mindset kebudayaan Jawa tentang nilai jati diri dan identitas yang sangat melekat dalam pemahaman kakang kawah adi ari – ari dan sedulur kiblat papat lima pancer itu dalam nilai pusat energi kerahiman itu (gua garba) berlaku secara di sadari dan tidak di sadari (bawah sadar). Saudara yang tak akan berpisah dan sangat melekat dalam elemen dan unsur hawa nafsu dalam jiwa yang berjanji menjaga hidupmu sampai berpulang secara sempurna (moksa atau pangracutan) jika belum berpulang sempurna harus melanjutkan tumanitis .

Ada dua hal prosesnya menjaga dan sebagai pamomong, pertama, mereka (sedulur) akan selalu menjaga dalam kondisi terbelenggu oleh kemelekatan dunia sekalipun atau kondisi tidak disadari oleh jabang bayi (kesadaran pancer). Semata – mata sifat angkara murkanya hawa nafsu yang bersifat koma salah itu hanya ingin di ketahui oleh pancer agar pancer tidak lupa dan memperhatikannya menjadi koma dadi. Kegagalan – kesialan dan apes terjadi hanya semata – mata agar pancer memperhatikan secara sadar dan tidak melupakan saudaranya. Meskipun perilaku terlihat menyimpang bagi kehidupan sosial sekitar tetap semata – mata hanya untuk di perhatikan oleh pancer sebagai wujud tuntutan keseimbangan dan keselarasan. Dengan hawa nafsu liar dan masih belum terbina mereka (sedulur) menjaga kehidupanmu tanpa melepas perjanjiannya itu. Mereka akan menjaga hidup dengan hawa nafsu liar seperti sifat angkara murka yang sangat melekat dengan duniawi yang sebenarnya kondisi mereka belum di ketahui dan di sadari oleh pancer dan tiada pertemuan hingga masih liar. Perbedaan demensi alam kehidupan di alam gua garba dengan dunia (bumi) sangat berbeda dan membuat mereka kecewa dan kaget hidup di dunia. Angkara murka itu hanyalah sifat tuntutan untuk supaya di perhatikan atau di ruwat dan di rawat. Kisah itu seperti kisah lahirnya Betara Kala sebagai kama salah dan memberontak dan menuntut mencari jati dirinya hingga sampai bertemu. Contoh lain seperti kisah Mahesa Sura atau kisah Petruk yang memberontak kahyangan.

Kedua, di sadari melalui prosesi adat dan tradisi budaya Jawa yang harus diruwat, dirawat dan dihormati dengan cara membuat tumpeng atau selamatan “bancaan” atau tapa brata “laku prihatin”.  Secara sadar mereka (sedulur) di anggap ‘pamomong’ atau penjaga yang selalu menuntut keseimbangan, keselarasan dan keharmonisan dengan cara – cara alam berkehendak. Tradisi eling dan waspada terhadap keseimbangan dan keselarasan unsur-unsur alam semesta yang harus di jaga, apabila tidak terjaga maka ketidakseimbangan dan ketidakharmonisan akan terjadi. Dampak – dampak ketidakseimbangan yang terjadi berupa kegagalan dan permasalahan hidup berupa belenggu derita atau kesesatan yang menimpa hidup. Agar terjadi keseimbangan dan keharmonisan serta keselarasan itu maka di butuhkan kesadaran untuk melakukan perjalanan rohani menemuinya (sedulur). Bertemunya dengan sedulur – sedulur itu sebagai tanda prosesi memayu hayuning bawana terjadi dengan di awali melenyelenggarakan cipta, rahsa dan karsa.

Semata – mata kakang kawah adi ari – ari atau sedulur papat lima pancer menegakan perjanjiannya ketika di gua garba. Perjanjian itu adalah angger – angger tri prasetya yaitu menuntut pancer (jabang bayi atau Ingsun) menyelenggarakan perjalanan rohani Sangkan Paraning Dumadi, Memayu Hayuning Bawana dan Manunggaling Kawula Gusti. Tuntutan itu jika di sistematikakan di awali mendirikan pancer (kepribadian jati diri, kemudian melakukan perjalanan rohani “tri brata” mendirikan kesadaran rohani yang sejati yaitu mendirikan cipta, rahsa dan karsa sejati. Selanjutnya medirikan panca maya atau panca brata yaitu bertemu secara rohani dengan sedulur kiblat papat lima pancer atau sedulur atman artadaya yang di awali bertemu dengan panca maya dulu yaitu kakang kawah adi ari – ari sebagai sedulur prana.  Setelah bertemu sedulur kakang kawah adi ari – ari dalam demensi prana dan sedulur papat kiblat lima pancer dalam demensi atman dan kekuasaan artadaya selanjutnya bertemu sedulur tri purusa atau sukma sejati, sukma kawekas dan sukma tunggal. Setelah bertemu sulur sukma sejati itu atau sedulur tri purusa (sedulur brahman) itu maka genaplah pancer (jabang bayi) secara absah menyebut dirinya sebagai Ingsun atau Ingkang Sinuwun yang jumeneng.

Apa yang terjadi jika hidup tanpa menyelenggarakan angger – angger tri prasetya. Bukanlah hal yang imajinatif belaka tetapi inilah ilmu kasunyatan atau ilmu kasampurnan yang bisa di buktikan dengan laku. Masyarakat modern haruslah memiliki keseimbangan dalam kesadaran rohani agar tidak terjadi tiwas ketika ajal tiba atau terlanjur kecewa dan tak bisa menerima kenyataan di kemudian hari (penasaran). Hidup sejati tidak semata – mata demi kepentingan ragawi saja tetapi juga demi kepentingan rohani juga. Apabila di tegaskan kepentingan ragawi juga meliputi kepentingan rohani di karenakan hal rohani selalu membawa (melibatkan) kesejahteraan ragawi. Tanpa bertemu sedulur sejati siapakah yang menuntun perjalanan rohani masyarakat Jawa. Tanpa perjalanan rohani bagaimana bisa mengetahui perjalanan rohaninya. Untuk itulah mindset kebudayaan Jawa adalah ilmu kasunyatan dan ilmu kasampurnan yang mutlak dan absolut haru smendirikan jati diri, identitas dan kepribadian sebagai pancer dalam konsep cinta tanah airnya sebagai konsep bumi mataram atau pusat kerahiman di dunia.     

 Mas Kelik (PTT Semarang)
 09-06-2013